Ancaman Bencana Alam pada Sektor Pariwisata: Strategi Mitigasi di Kawasan Rawan Gempa

Indonesia, yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan seismik tertinggi di dunia. Kondisi geografis ini membawa berkah kekayaan alam yang melimpah, sekaligus risiko yang tinggi. Bagi sektor pariwisata, kerawanan ini menimbulkan Ancaman Bencana Alam yang sangat nyata, di mana gempa bumi, tsunami, hingga erupsi gunung berapi dapat melumpuhkan industri dan citra destinasi dalam sekejap. Mengingat pariwisata adalah salah satu penopang devisa terbesar, pengembangan strategi mitigasi yang komprehensif di kawasan rawan gempa, seperti Lombok, Bali, dan Palu, bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak untuk menjamin keselamatan wisatawan dan keberlanjutan bisnis.

Dampak dari Ancaman Bencana Alam terhadap pariwisata sangat merugikan, tidak hanya dari sisi kerugian infrastruktur, tetapi juga dari sisi psikologis. Ambil contoh gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7.0 yang melanda Lombok pada Agustus 2018. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa tersebut merusak lebih dari 70.000 rumah dan fasilitas umum, termasuk ratusan hotel dan penginapan. Imbasnya, kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Barat turun hingga 60% dalam enam bulan pasca-kejadian. Kerugian ini menunjukkan bahwa pemulihan citra destinasi jauh lebih sulit dan memakan waktu lama dibandingkan perbaikan fisik semata.

Untuk memitigasi Ancaman Bencana Alam secara efektif, strategi harus difokuskan pada tiga pilar: edukasi, infrastruktur tangguh, dan sistem peringatan dini yang andal. Di Bali, misalnya, Pemerintah Provinsi telah mewajibkan hotel-hotel yang berlokasi di zona merah tsunami untuk mengadakan simulasi evakuasi setidaknya dua kali dalam setahun, dengan instruktur bersertifikasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada tahun anggaran 2025 telah mengalokasikan dana sebesar Rp 500 miliar untuk memperkuat struktur bangunan vital di 10 destinasi super prioritas, termasuk pembangunan jalur evakuasi vertikal di pantai-pantai rawan tsunami.

Pentingnya sistem peringatan dini yang efektif juga tak bisa diabaikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada bulan Oktober 2025 telah meresmikan penambahan 20 stasiun sensor gempa baru di sepanjang jalur megathrust selatan Jawa dan Sumatera. Peningkatan infrastruktur ini bertujuan untuk mempercepat waktu respons peringatan tsunami menjadi di bawah lima menit, yang krusial untuk menyelamatkan nyawa wisatawan dan penduduk lokal.

Melindungi sektor pariwisata dari Ancaman Bencana Alam adalah investasi jangka panjang. Dengan membangun kesiapan, baik struktural maupun kultural, Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia bahwa destinasi wisatanya tidak hanya indah, tetapi juga aman dan bertanggung jawab. Upaya terpadu antara pemerintah, aparat kepolisian (seperti yang terlibat dalam pengamanan dan evakuasi pasca-bencana), pelaku usaha, dan masyarakat adalah kunci untuk menciptakan safe tourism yang berkelanjutan.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org