Banyak orang bilang kalau Jogja itu tempatnya romansa dan harga makanan yang murah meriah. Tapi kalau kita perhatikan lebih dalam, belakangan ini Biaya Hidup Yogyakarta mulai menunjukkan tren yang cukup menantang bagi kantong warga lokal maupun para perantau. Harga tanah yang melambung tinggi ditambah kenaikan harga bahan pokok pelan-pelan mulai mengikis citra “kota murah” yang selama ini melekat. Fenomena ini tentu jadi perbincangan hangat di angkringan, karena banyak yang merasa peningkatan pendapatan tidak sebanding dengan harga segelas kopi atau sepiring nasi kucing yang perlahan mulai naik seribu demi seribu rupiah setiap tahunnya.
Menghadapi situasi ini, kita tidak boleh hanya pasrah dan menyalahkan keadaan ekonomi global yang memang tidak lagi disebutkan. Strategi paling santai untuk menyiasati Biaya Hidup Yogyakarta adalah dengan mulai melakukan audit kecil-kecilan pada pengeluaran harian kita. Kadang tanpa sadar, kita terlalu sering “jajan” atau nongkrong di kafe kekinian yang harganya setara dengan makan besar tiga kali sehari. Mencoba kembali ke selera asal dengan memasak sendiri di rumah atau mencari tempat makan legendaris yang harganya masih bersahabat bisa jadi penyelamat saldo rekening di akhir bulan agar tidak kritis sebelum habisnya gaji tiba.
Selain itu, penting juga bagi kita untuk melek finansial dan mulai mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama untuk menyeimbangkan Biaya Hidup Yogyakarta . Di era digital seperti sekarang, ada banyak peluang kerja sampingan yang bisa dilakukan dari kamar kost atau rumah, mulai dari jadi penulis lepas hingga penjualan produk kreatif di media sosial. Dengan punya lebih dari satu sumber masukan, kita jadi punya bantalan yang lebih empuk saat harga-harga di pasar mulai melonjak naik akibat inflasi. Jangan sampai gaya hidup kita lebih besar daripada kemampuan kantong, karena itu resep paling cepat menuju stres finansial yang tidak perlu.
Masyarakat Jogja yang dikenal guyub juga punya cara unik dalam menekan Biaya Hidup Yogyakarta , yaitu dengan budaya gotong royong dan berbagi. Misalnya, dengan belanja kebutuhan pokok bersama-sama dalam jumlah besar (grosir) agar dapat harga lebih murah, atau sekadar berbagi tumpangan saat pergi ke kantor demi menghemat bensin. Hal-hal kecil seperti ini jika dilakukan secara konsisten ternyata dampaknya lumayan terasa lho buat dompet. Kita tetap bisa menikmati kenyamanan hidup di kota pelajar ini tanpa harus merasa tercekik oleh kenaikan harga yang terkadang terasa kurang masuk akal bagi sebagian orang yang baru pindah ke sini.